jika Anda ingin menghapus artikel dari situs, hubungi kami dari atas.

    buku yang menggambarkan bagaimana penderitaan rakyat lebak, banten akibat penjajahan belanda ditulis oleh

    Muhammad

    Guys, ada yang tau jawabannya?

    dapatkan buku yang menggambarkan bagaimana penderitaan rakyat lebak, banten akibat penjajahan belanda ditulis oleh dari situs web ini.

    Buku yang menggambarkan bagaimana penderitaan raky...

    Buku yang menggambarkan bagaimana penderitaan rakyat Lebak, Banten akibat penjajahan Belanda ditulis oleh ....

    Pertanyaan

    Buku yang menggambarkan bagaimana penderitaan rakyat Lebak, Banten akibat penjajahan Belanda ditulis oleh ....

    Daendels Multatuli Van Deventer Van Den Bosch I. Uga Master Teacher

    Jawaban terverifikasi

    Iklan

    Pembahasan

    Max Havelaar adalah sebuah novel karya Multatuli (nama pena yang digunakan penulis Belanda Edward Douwes Dekker). Novel ini pertama kali terbit pada 1860 dan diakui sebagai karya sastra Belanda yang sangat penting karena memelopori gaya tulisan baru. Max Havelaar bercerita tentang sistem tanam paksa yang menindas kaum bumiputra di daerah Lebak, Banten.

    Dengan demikian, maka jawaban yang tepat adalah B.

    Baca pembahasan lengkapnya dengan daftar atau masuk akun Ruangguru. GRATIS!

    Sudah punya akun? Klik disini

    KONSEP KILAT

    PEREBUTAN HEGEMONI BANGSA BARAT

    PERKEMBANGAN KEKUASAAN BANGSA EROPA DI INDONESIA

    LATIHAN BAB

    Perdalam pemahamanmu bersama Master Teacher

    di sesi Live Teaching, GRATIS!

    Brain Academy Online 101: Intip Fasilitas Belajar Terlengkap

    Selasa, 7 Mar 2023 07.50-09.15 Akan Datang

    Trial Class Matematika Vektor : Pengertian dan Operasi Vektor - 10 SMA IPA/IPS bersama Kak Reny

    Selasa, 7 Mar 2023 09.50-11.15 Akan Datang

    Trial Class Bahasa Inggris Tenses - 7 SMP bersama Kak Ayuma

    Selasa, 7 Mar 2023 09.50-11.15 Akan Datang

    Misteri Sains - Bukan Hanya Darah, Kita Juga Bisa Donor Organ loh!

    Selasa, 7 Mar 2023 11.15-12.45 Akan Datang

    Trial Class IPA Terpadu Tema 7 : Peristiwa dalam Kehidupan - 5 SD bersama Kak Zelin

    Selasa, 7 Mar 2023 11.20-12.45 Akan Datang 8rb+ 4.5 (11 rating)

    Yuk, beri rating untuk berterima kasih pada penjawab soal!

    Mumtaz Syifa Naura Khairunnisa

    Ini yang aku cari! Makasih ❤️

    Iklan

    Klaim Gold gratis sekarang!

    Dengan Gold kamu bisa tanya soal ke Forum sepuasnya, lho.

    Pertanyaan serupa

    Perhatikan buku pada gambar berikut! Tujuan Douwes Dekker menulis buku pada gambar adalah ...

    779 5.0

    Jawaban terverifikasi

    Tokoh Belanda yang menentang tanam paksa adalah ...

    8rb+ 5.0

    Jawaban terverifikasi

    Iklan

    Soal terdiri atas 3 bagian, yaitu PERNYATAAN; kata SEBAB; dan ALASAN yang disusun berurutan. Eduard Douwes Dekker, seorangmantanasisten residendiLebak, adalah salah satupendukungsistem tanam paksa....

    517 0.0

    Jawaban terverifikasi

    Sistem Tanam Paksa yang mendatangkan kesejahteraan bagi bangsa Belanda akhirnya menuai kritik dari para tokoh Belanda, antara lain ...

    235 0.0

    Jawaban terverifikasi

    Orang yang menentang sistem tanam paksa adalah...

    2rb+ 4.5

    Jawaban terverifikasi

    Iklan

    sumber : roboguru.ruangguru.com

    Buku yang menggambarkan bagaimana penderitaan rakyat lebak, banten akibat penjajahan belanda

    Buku yang menggambarkan bagaimana penderitaan rakyat lebak, banten akibat penjajahan belanda ditulis oleh - 40329400

    !function(a,b,c,d,e){a.ddCaptchaOptions=e||null;var m=b.createElement(c),n=b.getElementsByTagName(c)[0];m.async=0,m.src=d,n.parentNode.insertBefore(m,n)}(window,document,"script","https://js.captcha-display.com/xhr_tag.js", {ajaxListenerPath: ["brainly.co.id/api", "brainly.co.id/graphql", "api-textbook-solutions.brainly.com", "question-matching-textbook-solutions.brainly.com"], withCredentials: true, sessionByHeader: true, overrideAbortFetch: true, allowHtmlContentTypeOnCaptcha: true });

    Buku yang menggambarkan bagaimana penderitaan rakyat lebak, banten akibat penjajahan belanda - Brainly.co.id

    sumber : brainly.co.id

    Multatuli, Penulis Belanda yang Memihak Indonesia Halaman all

    Biografi Multatuli atau Eduard Douwes Dekker, tokoh penulis Max Havelaar. Halaman all

    Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

    Kompas.com Stori

    Multatuli, Penulis Belanda yang Memihak Indonesia

    Kompas.com - 16/09/2021, 10:00 WIB

    2

    Lihat Foto

    Eduard Douwes Dekker(britannica.com)

    Penulis Widya Lestari Ningsih | Editor Nibras Nada Nailufar

    KOMPAS.com - Multatuli adalah nama samaran Eduard Douwes Dekker, seorang penulis berkebangsaan Belanda yang menyampaikan kecamannya terhadap bangsanya sendiri atas penderitaan penduduk Indonesia lewat bukunya.

    Buku karya Multatuli yang menggambarkan bagaimana penderitaan rakyat Lebak Banten akibat penjajahan Belanda adalah Max Havelaar.

    Berkat kritikan dalam karyanya itu, sistem tanam paksa perlahan-lahan dihapuskan.

    Selain itu, Multatuli dianggap sebagai salah satu penulis terhebat Belanda yang karyanya memelopori gaya tulisan baru.

    Awal kehidupan

    Eduard Douwes Dekker adalah anak keempat dari pasangan Engel Douwes Dekker dan Sietske Eeltjes Klein yang lahir pada 2 Maret 1820 di Amsterdam, Belanda.

    Ketika remaja, sang ayah yang berprofesi sebagai kapten kapal, menyekolahkannya di sekolah Latin.

    Setelah lulus, Douwes Dekker sempat bekerja untuk sementara waktu sebagai juru tulis di sebuah perusahaan tekstil.

    Namun pada 1838, ia memilih untuk pergi ke Batavia (Jakarta) dengan menumpang salah satu kapal ayahnya.

    Baca juga: Tokoh-tokoh Pelopor Politik Etis

    Karier di Hindia Belanda

    Eduard Douwes Dekker tiba di Batavia pada 1839. Berkat relasi ayahnya, ia diterima di deparemen akuntansi di kantor Pengawasan Keuangan Batavia.

    Pada 1842, ia diangkat menjadi pengawas keuangan di Kecamatan Natal yang terletak di Sumatera Utara.

    Akan tetapi, Douwes Dekker mendapatkan teguran serius hingga diberhentikan sementara karena ditemukan penyimpangan dan kerugian besar dalam kas pemerintahan.

    Di tengah situasinya itu, ia sempat menulis naskah drama berjudul De Oneerbare (The Dishonorable Man).

    Meski Douwes Dekker kemudian ditemukan tidak sepenuhnya bersalah, ia mengaku bahwa pekerjaan administrasi tidak cocok untuknya.

    Pada tahun-tahun berikutnya, ia diterima bekerja sebagai sekretaris residen di Manado dan Ambon.

    Antara 1852 hingga 1855, Douwes Dekker sempat mengambil cuti dan kembali ke Belanda karena alasan kesehatan.

    Namun, keuangannya semakin memburuk karena sering mengalami kekalahan di meja judi.

    Douwes Dekker kembali ke Batavia pada 10 September 1855, di mana ia kemudian diangkat menjadi asisten residen Lebak, Banten.

    Meski hanya menjabat asisten residen di Lebak sekitar 3 bulan (21 Januari 1856 - 4 April 1856), ia berhasil membongkar praktik eksploitasi penguasa kolonial atas rakyat bumiputera.

    Douwes Dekker kemudian mengirim surat kepada atasannya, dan mengungkapkan bahwa ia menentang sikap pemerintah kolonial Belanda yang mendiamkan praktik eksploitasi di tanah jajahan.

    Sayangnya, usulan untuk menindak para pejabat pelaku pemerasan ditolak oleh atasannya. Ia bahkan justru diberi peringatan keras.

    Kesal dengan sikap bangsanya sendiri, Douwes Dekker memilih untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya dan kembali ke Eropa.

    Baca juga: Danudirja Setiabudi (Ernest Douwes Dekker): Kehidupan dan Perjuangan

    Menulis buku Max Havelaar

    Bertekad untuk mengungkap kekejaman yang ia saksikan di Lebak, Douwes Dekker mulai menulis artikel di perusahaan surat kabar di Brusel, Belgia.

    Namun, artikel yang ia tulis belum berhasil mendapatkan perhatian dari para pembaca.

    Barulah pada 1860, tulisanya yang terbit dalam bentuk novel satir antikolonialis berjudul Max Havelaar, menjadi terkenal.

    Melalui Max Havelaar, Douwes Dekker membongkar praktik eksploitasi penguasa kolonial atas rakyat Indonesia dan menyerukan keadilan.

    Buku tersebut segera menimbulkan kegemparan di Belanda, bahkan terkenal di lingkungan internasional.

    Dalam karyanya itu, Douwes Dekker menggunakan nama samaran Multatuli. Nama pena itu berasal dari frasa Latin multa tuli, yang berarti "saya telah banyak menderita".

    Nama ini dipilih karena merujuk pada dirinya sendiri dan para korban ketidakadilan yang dilihatnya di Lebak.

    Akhir hidup

    Setelah Max Havelaar, Douwes Dekker aktif menelurkan karya-karya satir lainnya.

    Selain itu, ia juga menerbitkan puluhan tulisan, termasuk naskah drama yang membawanya menuju puncak karier sebagai seorang penulis.

    Pada sekitar 1867, ia memutuskan untuk pindah ke Jerman dan menetap di Kota Ingelheim am Rhein.

    Douwes Dekker tinggal di kota itu sampai akhir hayatnya pada 19 Februari 1887.

    Referensi:

    Makfi, Samsudar. (2019). Masa Penjajahan Kolonial. Singkawang: Maraga Borneo Tarigas.

    Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

    2 Tag

    Eduard Douwes Dekker

    biografi eduard douwes dekker

    sejarah multatuli

    karya-karya Multatuli

    Douwes Dekker

    douwes dekker biografi

    multatuli

    Lihat Stori Selengkapnya

    Tokoh-tokoh Panitia Sembilan

    Mengapa Pemerintah Kolonial Belanda Menerapkan Politik Etis?

    sumber : www.kompas.com

    Apakah Anda ingin melihat jawaban atau lebih?
    Muhammad 22 day ago
    4

    Guys, ada yang tau jawabannya?

    Klik untuk menjawab